Puluhan Santri di Nganjuk Keracunan Massal

Sekitar 60 santri dan 10 orang pengasuh pondok pesantren anak darus sholihin desa bagbogo tanjung anom nganjuk keracuan makanan seusai santap saur.

Bocah-bocah lugu ini merasakan perut mual dan muntah-muntah ketika siang hari bertepatan dengan kegiatan ngaji di ponpes berlangsung. Bahkan tidak hanya mual dan muntah saja mereka juga mengalami sakit di sekujur tubuh.

Para santri mulai merasakan rasa mual pusing dan muntah sekitar pukul 11 siang karena makin banyak santri mengeluh mual dan pusing akhirnya sekitar pukul 2 siang pengasuh pondok membawanya ke puskesmas tanjunganom prambon.

Karena kapasitas puskesmas tidak muat sebagian besar dari 60 santri terpaksa ditempatkan di bangku ruang tunggu di luar kamar perawatan.

Mengingat kondisi santri semakin buruk 24 santri harus mendapatkan cairan infus bahkan ada juga yang dirujuk di rumah sakit di kertosono dan tiga santri dibawa ke rs muhammadiyah kediri.

Menurut titis faridah pengasuh ponpes para santri keracunan makanan saat makan saur menyantap makanan bali telor yang selama ini rutin dimasak para Pengurus pondok pagi hari memang belum ada gejala namun siang harinya para santri mulai merasakan sakit perut mual dan muntah.

Keterangan pihak puskesmas dugaan sementara para santri menderita keracunan makanan yang tercemar zat tertentu. Hingga sore hari kondisi sejumlah santri masih memprihatinkan dokter juga terus memantau dan menangani secara intensif.

Seorang preman kampung di nganjuk jawa timur babak belur dihajar massa setelah membacok tetangganya sendiri tidak jelas apa alasan preman tersebut sampai tega membacok tetangganya.

Mulyo warga desa tiripan berbek nganjuk jawa timur kini terbaring lemah di rumah sakit bayangkara nganjuk pria dua anak ini harus menjalani perawatan intensif setelah mendapat luka bacokan di beberapa bagian tubuhnya.

Menurut mulyo kejadian itu bermula saat dirinya bersantai di depan rumah tetangganya saat mendengar keributan dia bertanya kepada supriyono tetangganya itu bukan menjawab namun malah membacok dengan menggunakan sabit ke tubuhnya hinga beberapa kali mulyo tidak tahu apa kesalahannya sehingga harus menerima bacokan itu.