Sejarah Lion Air

Sejarah

BACA JUGA : Situs Cek Resi

Yakovlev Yak-42D, pesawat terbang pertama Lion Air, mendarat di Singapura

Lion Air MD-82 di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin
Maskapai ini didirikan pada bulan Oktober 1999 oleh saudara Rusdi dan Kusnan Kirana dan mulai beroperasi pada tanggal 30 Juni 2000, ketika mulai menjadwalkan layanan penumpang antara Jakarta dan Denpasar dengan menggunakan Boeing 737-200 yang disewa. Itu adalah maskapai bertarif rendah pertama di Indonesia. Armada dengan cepat diperluas dengan sewa basah dari 5 Yakovlev Yak-42Ds, 2 McDonnell Douglas MD-82s dan 2 sub-leased Airbus A310-300s. Pertumbuhan yang cepat memungkinkan modernisasi armada dengan pesawat Boeing 737-300 dan Boeing 737-400. Pada tahun 2003 sebuah anak perusahaan maskapai penerbangan didirikan, Wings Air, mengoperasikan penerbangan dengan rute kepadatan rendah. Anak perusahaan lebih lanjut dikembangkan termasuk Malindo Air di Malaysia pada tahun 2012, Thai Lion Air di Thailand pada tahun 2013 dan di dalam negeri, Batik Air, anak perusahaan layanan penuh, juga pada tahun 2013.

Maskapai ini berencana untuk bergabung dengan IATA dan karenanya berharap untuk menjadi pembawa IATA Indonesia kedua setelah Garuda Indonesia. Lion Air gagal, pada awal 2011, penilaian awal IATA untuk keanggotaan karena masalah keamanan. Lion Air dan Boeing mempelopori penggunaan prosedur navigasi navigasi yang sesuai di Indonesia, setelah berhasil melakukan penerbangan validasi di dua bandara yang menantang medan di Ambon dan Manado.

Dari tanggal 19 Juli 2011, Lion Air telah membumi 13 pesawat karena sanksi yang disebabkan oleh kinerja tepat waktu (OTP). Kementerian Perhubungan mencatat bahwa OTP Lion Air sebesar 66,45 persen merupakan yang terburuk dari enam maskapai dalam sebuah penilaian yang dilakukan dari Januari hingga April 2011 di 24 bandara di seluruh negeri. Di sisi lain, maskapai yang menggunakan bandara Jakarta menghadapi penundaan yang cukup besar untuk jadwal mereka karena kemacetan landasan pacu.

Pada tanggal 18 November 2011, maskapai ini bersama-sama mengumumkan dengan Boeing sebuah merek perekam 201 Boeing 737 MAX dan 29 pesawat Boeing 737-900ER, yang menetapkan rekor untuk urutan tunggal terbesar di dunia dari 230 pesawat untuk maskapai komersial senilai $ 21,7 miliar.

BACA JUGA : situscekresi.com

PK-LHG, A Lion Air Boeing 747-400 di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Pada bulan Januari 2012, Kementerian Perhubungan mengatakan bahwa hal itu memberi sanksi kepada Lion Air karena beberapa pilot dan anggota awak kapal ditemukan dalam beberapa bulan terakhir untuk memiliki methamphetamine kristal. Pada akhir 2011 Muhammad Nasri dan dua rekan pilot lainnya ditangkap di sebuah pesta di Tangerang; Pada awal tahun 2012 seorang pilot tertangkap dengan meth crystal di Makassar. Pada tanggal 4 Februari 2012, seorang pilot Lion Air lainnya ditangkap setelah menjalani tes urinalisis positif untuk penggunaan methamphetamine; Dia dijadwalkan terbang Surabaya-Makassar-Balikpapan-Surabaya beberapa jam kemudian. Lisensi pilot dan kru dicabut.

Pada bulan Juni 2016 Lion Air dikeluarkan dari daftar maskapai penerbangan hitam untuk terbang ke UE.