Kontraktor Kubah Masjid di Jakarta

Kontraktor Kubah Masjid di Jakarta

Kontraktor Kubah Masjid di Jakarta

Tidak asing lagi jika penduduk Indonesia mendengarkan kota Jakarta. Kota dimana tempat pusat pemerintahan Indonesia berada. Pusat akan kebudayaan Indonesia dituliskan. Tidak hanya penduduk Indonesia saja yang ingin berkunjung ke ibu kota Jakarta ini, akan tetapi dari berbagai pelosok penjuru dunia berdatangan ke ibu kota ini. Para pengunjung datang ke ibu kota dengan tujuan masing-masing. Mulai dari berlibur hingga ingin mendapatkan kursi yang megah di struktrur pemerintahan. Serta ada sebagian penduduk yang ingin sukses di ibu kota seperti dengan menjadi seorang pelajar di sekolahan ternama di Jakarta. Ada juga yang mengais rezeki semisal dengan menjadi seorang Kontraktor Kubah Masjid.

Berlibur di ibu kota memang impian dari setiap masyarakat yang belum pernah menginjakkan kakinya di tanah abang ini. Mereka mengira ibu kota seperti kampung halamannya yang tidak pernah macet, penuh polusi dan lain sebagainya. Sebagian masyarakat yang datang ke tanah abang mengeluhkan adanya kemacetan panjang, polusi, dan udaranya yang panas. Sebab semua yang berkunjung ke tanah abang selalu membawa kendaraan pribadi yang membuat volume kendaraan yang masuk ke ibu kota tinggi dan tidak diimbangi oleh pelebaran jalan bahkan banyak pengguna jalan yang tidak mentaati rambu-rambu lalu lintas. Udaranya yang panas membuat sebagian masyarakat juga mengeluhkan jika berkunjung ke ibu kota Jakarta. Sebab tidak sedikit pohon yang ditebang untuk gedung-gedung namun taman penghijauan tidak seimbang dengan kebutuhan udara penduduknya. Walaupun dengan rentetan keluhan masyarakat seperti ini, tidak mengurangi rasa penasaran sebagian masyarakat yang memiliki motivasi tinggi untuk mengadu nasib di ibu kota. Seperti para Kontraktor Kubah Masjid di Jakarta yang tetap bertahan mengadu nasib disana. Meskipun mengeluhkan dengan keadaan sedemikian rupa mereka tetap memilih bertahan disana untuk bertahan hidup.

Sebagian besar para pengadu nasib di Jakarta memilih meninggalkan keluarganya di kampung halaman. Mereka memilih meninggalkan keluarga karena di kampung halaman kurang menyediakan lapangan pekerjaan. Kalaupun mereka punya kerjaan di kampung halaman, mereka mengaku bahwa upah yang mereka terima kurang untuk menutupi kebutuhan keluarga. Seperti bapak Yasin Abidin yang meninggalkan keluarganya di kampung halaman karena di kampung halaman upah yang mereka terima kurang untuk menutup kebutuhan keluarganya. Bapak Yasin Abidin sebelumnya bekerja sebagai Kontraktor Kubah Masjid juga. Beliau mengaku di kampung halamannya kurang mendapatkan pembeli yang membutuhkan kubah masjid. Sehingga bapak Yasin Abidin memutuskan untuk mengadu nasib di ibu kota. Dengan pengalaman yang sudah bapak Yasin miliki dan modal seadanya, beliau memberanikan diri pergi ke Jakarta menjadi seorang Kontraktor Kubah Masjid. Dengan jatuh bangun bapak Yasin mengadu nasib menjadikan bapak Yasin terus belajar. Hingga genap tujuh tahun beliau belajar dan mengadu nasib di Jakarta, bapak Yasin Abidin menjadi orang sukses hingga dapat memboyong keluarganya ke Jakarta.